KUDA PONNY YANG MALAS DAN KELEDAI UNGU YANG RAJIN

Pada zaman dahulu, di suatu desa terpencil yang jauh dari hingar-bingar kota, hiduplah sebuah keluarga miskin tanpa mempunyai anak, mereka adalah pak Rama dan bu Dita. Mereka hanya tinggal bersama dua hewan peliharaannya, Ponny dan Ungu. Ponny merupakan seekor kuda yang memiliki ponny cantik, bentuk tubuhnya juga sangat indah, banyak orang yang mengagumi kecantikan si kuda ponny ini, apalagi ketika ponny sedang berlari dan tertawa, suaranya sangat merdu. Sedangkan Ungu merupakan seekor keledai jelek yang berwarna ungu, bentuk tubuhnya juga tidak secantik ponny, tubuhnya pendek dan kumal, bahkan suaranya sangat jelek, sehingga orang-orang tidak memperhatikannya.
Pak Rama dan bu Dita lebih menyayangi si ponny daripada si ungu. Mereka memanjakan dan memperlakukan si ponny dengan sangat spesial, sedangkan ungu hanya diperlakukan biasa saja. Jika ada pekerjaan pekerjaan berat seperti mengangkut hasil panen ke pasar dan membajak sawah, mereka mengandalkan si ungu.
Ungu sering menangis karena perlakuaan yang tidak adil ini, tapi dalam hati ungu selalu yakin pada Tuhan yang maha adil. Semua ujian yang dialami ungu menjadikannya kuat dan mempunyai sifat yang rajin, tekun dan murah hati pada semua. Berbanding terbalik dengan ponny, perlakuan pak rama dan bu rama yang slalu memanjakannya membuat sifat ponny menjadi sombong dan malas bekerja.
Pada suatu hari ketika panen tiba, pak Rama dan bu Dita sangat bahagia karena panen padi tahun ini sangat melimpah. Pak Rama memeluk Ponny dengan erat dan berkata “Kamu pasti Dewi keberuntungan yang menjelma sebagai kuda Ponny yang cantik”. Mereka selalu menyanjung Ponny dengan sangat berlebihan, ini membuat Ponny bertambah sombong dan angkuh, Ponny berkata pada Ungu “Lihatlah keledai bodoh, mereka lebih menyayangiku daripada keledai jelek sepertimu”, ungu menjawab dengan senyuman ramah “Terima kasih Ponny yang cantik, aku sudah bahagia jika bapak dan ibu bahagia juga”.
Pak Rama dan bu Dita tidak ingat bahwa saat masa-masa sebelum panen tiba, Ungu lah yang sudah bekerja keras membantu mereka dengan membajak sawah, mengantar dan menjemput pak Rama serta mengantar bu Dita ke pasar untuk berjualan menggantikan pak rama yang sedang mengurus sawah.
Pada hari minggu, Pak Rama mengajak semua anggota keluarganya ke pasar untuk menjual hasil panen ini dan membeli kebutuhan sehari-hari. Dia meminta ungu dan ponny untuk membantu menarik pedatinya. “ungu dan ponny, bapak minta tolong, kalian tarik pedati ini menuju ke pasar ya…”, Ungu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, namun Ponny menolaknya dengan sombongnya. Akhirnya ungu lah yang menarik pedatinya.
Sesampainya di pasar, pak rama menjual semua hasil panennya. Dia mendapatkan banyak uang. Ketika pak rama dan bu Dita mau menuju ke toko sembako, tiba-tiba ponny menarik tangan mereka dan menuju ke arah toko perlengkapan hewan . Dia meminta mereka untuk membeli pelana dan sepatu baru untuknya. “Ponny, harga pelana dan sepatu itu sangat mahal, nanti kita hanya cukup membeli sedikit makanan” nasehat bu Dita. Tapi ponny tetap merengek memintanya terus sambil menangis.
Pak Rama tidak tega melihat ponny terus menangis, akhirnya dia membelikan pelana dan sepatu baru untuk Ponny, sedangkan untuk ungu, dia hanya membelikannya sepasamg sepatu bekas, “maaf ungu, bapak dan ibu tidak punya cukup banyak uang, jadi bapak belikan sepatu bekas ini, tapi walaupun bekas ini masih bagus dan kuat unukmu”. Ungu tersenyum dan menjawab “Te..te..terima kasih bapak dan ibu”, hatinya sangat gembira karena mendapat hadiah sepatu, “walaupun bekas, saya akan selalu menjaganya dengan baik” janjinya dalam hati.
Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, pak rama dan bu dita sudah tak mampu lagi mengerjakan pekerjaan mereka seperti biasanya karena faktor usia mereka, kini mereka mengandalkan ponny dan ungu. “Bapak dan ibu sudah tua dan tidak kuat lagi. Maukah kalian menggantikan pekerjaan kami seperti biasanya?” pinta pak Rama. Ungu menjawab sambil menangis “Iya pak, saya akan selalu siap menggantikan pekerjaan bapak dan ibu”. Ungu sangat sedih karena melihat bapak dan ibu sudah tua. Sedangkan ponny menjawab dengan nada keras “Aku tidak mau kerja di sawah. Kulitku bisa terbakar oleh sinar matahari dan poniku bisa rusak karena pekerjaan berat itu. Aku akan bekerja di kota, aku yakin pasti aku bisa sukses dan kaya”. Namun pak rama dan bu dita tidak mengizinkan ponny untuk pergi ke kota.
Pada malam harinya saat semuanya terlelap, Ponny pergi dari rumah tanpa seorangpun yang tahu. Rupanya tekatnya untuk ke kota sangat besar. Keesokan paginya, pak Rama dan bu Dita cemas karena Ponny sudah tidak ada dikamarnya, mereka sadar bahwa Ponny sudah meninggalkan mereka. Mereka menangis dan sangat kecewa kepada ponny, kuda yang mereka sayangi, ternyata meninggalkan mereka begitu saja. Mereka juga meminta maaf kepada ungu, keledai yang selama ini mereka perlakukan secara tidak adil. Keledai yang baik hati itu pun memaafkannya.
Akhirnya ungulah yang merawat mereka sampai akhir hidup mereka. Mereka bahagia sekali, karena akhir umur mereka dihabiskan bersama seekor keledai yang baik hati. Tamat
Komentar
Posting Komentar